Cari

Coretan Kehidupan

Berdamai dengan keadaan dan memeluk erat kebencian.

Kategori

Kehidupan

Aku dan Kisah hidupku

Malam ini semua terasa panjang bahkan sangat begitu amat panjang untuk ku jelaskan.

Aku dan kisah hidupku.

Laki-laki yang memperjuangkan hidupnya untukk ibu aku dan adik-adikku berasal dari daerah Sumatera Barat, beliau rela mengabdikan separuh hidupnya, jiwa raganya, hanya untuk keluarga nya, kucuran keringat dari tubuhnya begitu terasa kini, betapa tidak, hari ke hari beliau memikirkan untuk kehidupan kami, untuk pendidikan aku dan adik adikku, banting tulang, kesana kemari, hanya demi sesuap nasi dan secercah sinar yaitu pendidikan untuk kami anak-anak nya, aku sadar beliau begitu menyayngi kami, aku sadar beliau bangga terhadap ku, karena kini aku sedang melakoni impian terbesarnya, dan begitu mulia, ya, belliau menginginkan pendidikan terbaik untuk ku. Walau dulu aku betapa membencinya, tak pernah satu hari pun bertukar pikiran dengannya, tak pernah beliau merasa bangga, tapi itu dulu hanya anggapan seorang bocah, tetapi kini aku sadar, betapa sulit mengungkapkan semua isi hati apabila telah menemukan arti dewasa, betapa sulit mengungkapkannya.

Sosok wanita ini di lahirkan di Sumatera Utara sama dengan tempat lahirku, namun beliau berasal dari Jawa Tengah, dari rahimnya aku lahir, berkat didikan dan kasih sayangnya aku bisa sampai sejauh ini dari nya, dia rela menanggung malu untuk anak-anaknya, dia rela mengorbankan hidup dan mati nya demi aku dan adik-adikku, dia sangat ikhlas menyuci baju kami sekeluarga setiap hari, memasak masakan terlezat yang aku dan keluarga ku santap, memanage keuangan keluarga, memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya, walau semua itu tak kami hiraukan, tak kami apresiasikan dengan apapun, tetapi beliau tetap ikhlas menjalani semua, semua yang beliau lakukan. Ibu, ibu, ibu mungkin beliau wanita terbaik, ter ikhlas, tangguh yang aku miliki saat ini, wanita yang menularkan betapa banyak virus kebaikan yang ku miliki saat ini.

Aku di besarkan oleh kedua orang hebat tersebut, aku belajar apa arti keluarga, pendidikan, etika, moral, agama dari mereka, aku sendiri pun di lahirkan di tempat yang sama dengan Ibu ku, Sumatera Utara, tanah kelahiranku, walau hanya 1 bulan setelah lahir aku berada disana, tetapi jiwa ini tetap menganggap itu adalah tanah kelahiran ku, aku dibesarkan di bogor dan memiliki 2 orang adik, mungkin hubungan aku dan adik ku tak seindah hubungan persahabatan ku, namun aku tau mereka tetap adikku.

Suatu ketika aku menginginkan rasanya memiliki seorang kakak, ingin tahu bagaimana menjadi adik, dan di lindungi oleh sang kaka, mungkin itu telah terwujud, dan kini aku memiliki 2 orang yang telah aku anggap sebagai kakakku, Arif dan Tatan, mereka telah banyak menorehkan makna kaka di kehidupan ku ini.

Tetapi kini yang bisa ku lakukan hanyalah menjaga dan mendoakan kalian agar tetap bisa bersamaku, andai saja bisa aku ingin, aku saja yang terlebih dahulu meninggalkan kalian.

Karena aku tak sanggup di landa kesedihan karena pahitnya perpisahan

Iklan

Bersyukur

Tuhan, hari ini aku bersujud menghadap mu, aku merintih dalam hening doaku, ketika aku sedang menyembahmu, semua tentang diri ini terkenang, terulang dalam pikiran ini begitu saja, aku tak tau apa yang sedang terjadi saat itu, yang aku tahu aku hanya berdoa dan memohon kepadamu untuk menjaga semua orang yang telah memperlakukan ku begitu amat baik, sangat menghargaiku, dan mau menerima diri ini. Selain itu akupun begitu bersyukur telah di lahirkan dalam keadaan normal, bersama lingkungan yang begitu banyak mengajariku dasar dari kehidupan yang kini kujalani, Bersyukur pula telah kau pertemukan aku dengan berbagai macam orang baik dan bisa menerima keadaanku saat ini, tanpa memandang kondisi fisik yang dulu pernah ku benci. Aku bisa bertemu dengan Dzukfikar, Heni, Ina, Maya, Utari, Arif, Dika, Achla, Aul, Venny, Satria, Alpiansyah, Eko, Indra, Annas, Ika, Seluruh Demisioner V, mereka semua, karena mereka aku bisa bertahan hingga saat ini, entah apa jadinya bila aku tidak bertemu dan mengenal mereka. Rencamu untukku begitu indah Tuhan, kehidupan yang kau berikan begitu penuh perjuangan, dan dari situ aku bisa belajar menghargai perasaan orang lain, dari semua yang KAU berikan ini aku tau waktu sangat amat begitu berharga.
Dan kinipun KAU berikan lagi keindahan hidup itu kepadaku, kau mempertemukan ku dengan teman satu kampus yang bisa menerimaku apa adanya, Tatan, Juli, Fikri Amrullah, Cahyo, Cahyadi, Harisun, Aryo, Bayu, Rizki, Risca, Sarip, Ria, Meyta, Iwan, mereka hanya sebagian orang yang menghargai keberadaanku, mereka yang tidak pernah menghina aku sedikit pun dan apapun itu, aku begitu bersyukur Tuhan.

Dan ku mohon, jagalah mereka semua, berikan kebaikan kepada mereka, aku tau semua yang kau tunjukkan ini adalah semata-mata perjalanan dan pelajaran hidup yang harus ku lalui.

Hidup terasa berarti bersama orang yang mampu menerima mu

– Ashari Fauzi

Jaga pula Ibu dan Ayahku, adik-adikku, dan keluarga ku yang lain Tuhan.

Terimakasih atas semua perjalanan dan pelajaran ini.

Aku

Dedaunan saat ini sedang teduh tekena hempasan angin yang menggoda, udara sejuk pun tercipta. Sesuai, sangat sesuai momen seperti ini pas untuk ku, entah harus mulai dari mana, dan bagaimana, tetapi terkadang makna hidup selalu terlintas dalam khayalan, dan bayangan ku ini.

Pertemuan, Kebahagiaan, Pilihan lalu Pepisahan apakah hanya itu yang terjadi dalam hidup ini? Ketika bertemu semua terasa aneh, berbeda, tetapi lambat laun semua akan biasa dan beradaptasi dan timbul lah kebahagiaan, lalu setelah bahagia dan nyaman, pilihan dalam hidup pun bermunculan, resiko dan keuntungan semua harus di pikirkan, dan setelah mengambil keputusan pasti ada resiko yang di dapatkan tetapi itu pun untuk mendapat hal lain yang lebih, resiko pun salah satunya adalah berpisah dengan mereka yang telah membuat hari-hari terasa indah dan bahagia, tetapi pasti ada hal yang ingin di capai ketika meninggalkan mereka. Apakah ini makna hidup sesungguhnya?

Entah, taktau. Kata itu yang bisa ku ungkapkan, karena makna dari suatu hal pasti berbeda dari sudut pandang setiap insan. Tetapi jelas sekali hanya itu yang kurasa.

Ketika memasuki masa SMK aku merasa berbeda, tak mampu berbaur, tetapi lambat laun berubah, sangat drastis, dan aku memiliki kehidupan SMK yang bahagia bersama sahabat dan kerbat dekat lain, lalu tibalah UN dimana semua harus berakhir, dan menentukan pilihan, lanjut sekolah atau bekerja, ketika bekerja pun begitu begitu banyak godaan, rintangan yang di lalui.

Aku tau, semua ini ada campur tangan sang Kholik, aku tau DIA telah memberikan pilihan yang terbaik, hanya tergantung insan sendiri yang menentukan, semua masih menjadi misteri besar hingga saat ini, semua yang membuat ku bahagia harus ku tinggalkan demi sesuatu yang lebih baik, itu lah hidupku.

Tetapi, setidaknya aku bisa melewatinya walau itu pahit.

Hidup penuh liku dan pilihan itu yang ku ketahui.

Secercah kisah

Pagi ini, dikala kokokan ayam, ketika burung berkicau dan gemericik suara embun, tebesik di benak ini, terpikirkan kembali di logika ini, dan tersentak perasaan ini, mengenai kisah ku, pengalaman ku selama 18 tahun mengarungi kehidupan, mengumpulkan amal yang akan ku bawa nanti.

Begitu cepat waktu yang telah terlewatkan, betapa tak terasa kisah ini semakin menua, semakin mencari tujuannya sendiri, mungkin aku tau apa yang ku lakukan saat ini, tetapi aku tak tau apa arti semua yang ku lakukan, entah ini jalan untuk merajut semua mimpi ku entah lah, yang ku tahu hanya lah menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi seseorang yang berguna, menjadi seseorang yang bisa membawa kebaikan bagi orang lain.

Ketika usia ku 5 tahun, aku hanya tahu, bermain, belajar, beribadah, mengaji, bersenang-senang hanya itu, lambat laun semua berubah. 10, 11, 12 tahun pun telah terlewati, dan ketika itu aku memulai masa remaja, masa dimana aku tau kehidupan luar, kehidupan baru, bersama banyak orang, ketika itu aku merasa mereka tak bisa menerimaku, aku merasa hidup ini egois, tetapi lambat laun aku pun bertemu beberapa sahabat disana, Pandu, Satrio, Heni, Ersyal, Inna, Maya, Ute.

Mereka mungkin beberapa sahabat yang pertama kali kupunya, sahabat yang mengajarkan banyak arti kebebasan, kebahagiaan masa-masa remaja.

Tetapi semua itu berubah ketika kami lulus.

Saat lulus lah kami semua berpisah, menentukan jalan masing-masing, dan pada akhirnya aku memilih sebuah sekolah, bukan itu adalah tempat untuk menempa diri, mental, dan pengalaman, sebuah SMK Hijau di Bogor, SMK Wikrama Bogor, disana yang aku tau hanyalah orang-orang baik yang mungkin bisa menerima ku, bisa saling berdampingan dalam masa pembelajaran. Dan harapan itu benar, walau awalnya aku merasa terasingkan, tetapi aku harus bisa bersinar, harus bisa menjadi suatu bagian kecil dari sekolah itu, dan akupun mengikuti sebuah Organisasi, OSIS, entah keajaiban apa yang membuatku bisa masuk Organisasi tersebut, tetapi aku bersyukur, rencana tuhan terlampau indah. Dan aku pun bertemu beberapa sahabat berharga lainnya yang menuntun dalam pelajaran kisah ini.

Arif, Achla, Aul, Pepen, Sultan Dika, Satria, mereka pun hal terindah lain yang aku miliki, dari mereka aku belajar lebih lagi dalam bergaul, dalam menjalani hidup.

Hingga suatu hari aku dan teman OSIS lain harus mengakhiri masa jabatan, Demisioner V itulah sebutan untuk kami selanjutnya. Dan selang beberapa bulan, aku pun telah Lulus dari sekolah kehidupan itu, bangga, bahaiga, sedih, semua rasa itu melekat ketika pengalungan medali oleh ketua yayasan, seakan memutar memori bahwa tempaan kehidupan telah berakhir dan harus memulai kisah awal di masyarakat.

Setelah beberapa bulan Lulus pun aku bekerja, dan tinggal di kota tersibuk dan tak pernah tidur.

Jakarta, di kota ini aku mengadu nasib sambil menuntut ilmu, dan semua kisah ini sedang dalam proses penempaan, proses menjadi lebih lebih dan lebih baik.

Tetapi terkadang ada satu hal yang selalu menghantui pikiran dan perasaan ini, Rindu.

Takut dan Hilang

Kenyataan akan kehidupaan, tentang tingkatan hidup yang mungkin akan menjadi beban, tentang derajat ilmu yang harus dimiliki, ya inilah hidup sesungguhnya, hidup setelah jenjang Sekolah Menengah Kejuruan itu, mungkin aku telah merasakan mendapatkan biaya kehidupan sendiri, mendapatkan pengalaman yang jauh begitu banyak disini, tetapi ketika aku merasakan semua ini, aku pun harus berjauhan dengan orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang begitu dekat dengan hidup ini, mungkin memang inilah kehidupan perpisahan dan kehilangan, itu yang selama ini selalu menghantui diri ini, terkadang terbayang ketika aku sedang tertawa disini, ketika aku sedang begitu menikmati hidup baru ku, bagaimana orang tua ku? apakah mereka baik-baik saja? apakah mereka sudah makan? apakah mereka bahagia disana tanpa ku? pertanyaan itu seakan menyiksa ketika kehidupan ini aku jalani, pertanyaan yang membuat hari senin ku malas untuk melangkahkan kaki ke kota orang, bukan ketakutan yang lain tetapi ketakutan ini lah yang sering bertanya, baik, akupun harus menenangkan diri menjadi sosok yang tegar dan tangguh, perlahan, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, hingga kini 6 bulan, apa? 6 bulan? Ya 6 bulan sudah aku berjuan di kota orang, berjauhan dengan orang tua ku dan belajar melupakan pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin telah teratasi dengan selalu memberi kabar kepada mereka. Tetapi malam tadi ketakutan itu seakan datang kembali seakan mengingatkan kembali, sahabat, ya aku mempikan mereka, aku bermimpi yang tidak ingin aku ingat, kehilangan, seseorang yang berpamitan dengan ku, seorang sahabat yang ku anggap sebagai kakak ku yang lain dia berpamitan meninggalkan ku dan menitipkan Demis V kepada ku.

Tuhan hentikan akan mimpi seperti itu, berilah mimpi yang bermanfaat.

Cukuplah sudah aku bermimpi hal seperti ini, kelemahanku saat ini, ya kehilangan, cukup aku kehilangan seorang sahabat, walau dia tidak benar-benar hilang tetapi dia dan aku kini menempuh jalan yang berbeda jalan yang sangat berbeda, dia telah melanjutkan study nya sedangkan aku bekerja, siapa kah dia? dimana dia? seseorang yang membawa ku kepada kebenaran, kepada kehidupan yang lebih baik, sosok yang telah ku anggap kakakku, yang begitu banyak mengajarkan tentang kehidupan, tentang ke tegaran, ke tangguhan., dia kini masih di kota hujan itu, masih disana dia melanjutkan hidupnya, mengapa aku sebut hilang? karena dulu setiap hari, setiap waktu pasti dia yang memberiku nasihat dan begitu banyak pelajaran. Tapi semua itu dulu.

Tuhan walau aku tahu hidup ini ada yang pergi dan datang, tetapi aku mohon, peliharalah, jagalah, berikanlah kesehatan kepada mereka, orang-orang yang begitu ku sayangi, malaikat-malaikat penolong ku, walau aku tau apa itu ikhlas, walau aku tau apa itu tawakal tetapi aku mohon dengan sangat tuhan, lebih baik aku terlebih dahulu yang kau panggil jangan mereka, tanpa mereka hidupku akan terasa begitu sangat hampa, tidak berarti hidup ku tanpa mereka, mohon jaga mereka, orang-orang baik yang ku miliki.

Betapa mudah mencari musuh, tetapi begitu sulit mencari orang-orang yang menyayangimu, jagalah mereka.

Aku dan Mereka

Hembusan angin pagi di kota ini seakan berderu, berbisik dan mengingatkan kembali begitu kerasnya hidup, begitu munafik nya manusia, begitu fananya kehidupan, tetapi ketika kehidupan sesungguhnya ini kujalani, merasakan berat yang ku pikul “sendiri” menjadi terasa amat berat, ketika semua itu ku rasakan, aku bertemu dengan mereka.

Mereka? siapa? apa? bagaimana?

Ya, mereka adalah 3 anak manusia hebat dari beberapa yang ku punya, mereka hidup di dalam hati ini, aku bertemu dengan mereka ketika di SMK dan di Organisasi yang pernah ku ceritakan pada tulisan ku sebelumnya.

Seseorang dari mereka memiliki wibawa yang sangat aku kagumi, memiliki kelebihan yang sangat hebat, betapa tidak? Pintar, mudah memahami apapun, tentunya baik dan juga penuh dengan makna hidup ya dialah si wibawa.

Mereka lainnya adalah seseorang yang sangat tegas dengan kehidupannya, seseorang yang penuh prinsip hidup dan seseorang yang sangat mudah dalam bergaul  ya dialah si tegas.

Dan salah satu dari mereka yang terakhir yaitu orang yang hidupnya penuh dengan tontonan, orang yang masih memiliki sifat kekanakan lebih, walau di tahun ini dia ingin mulai beranjak dewasa, tetapi tetap aku memanggilnya si bocah.

Tidak ada hal aneh dari aku dan mereka hanya saja setiap kejadian yang aku dan mereka lalui terasa aneh, aku dan mereka berkumpul dalam sebuah group chat, dari situ kami bertukar pikiran, kami semakin dekat, hingga akhirnya aku pun merasakan betapa bangga dan tentunya bahagia bisa bertemu dengan mereka, ketika slah satu dari kami bingung, kami bisa menuangkan isi hati kami di group itu dan mendiskusikannya.

Hingga suatu hari kami pun pergi berenang bersama, awalnya aku dan mereka menentukan pada hari minggu tetapi tiba-tiba si bocah mengganti jadwal menjadi hari sabtu, dan jumat malamnya kami pun kelabakan menentukan tempat untuk bermain air itu, dan jatuhlah pilihan pada kolam renang sagara. Kami langsung salaing memberi pendapat tentang teknis keberangkatan dan pukul 8:00 kami harus menjemput si bocah, bagiku itu tak apa, karena memang kondisi rumah si bocah yang lumayan jauh. Esok hari nya aku sudah bersiap pada pukul 6:45 untuk berangkat, pagi sekali? ya aku dan si wibawa pun harus menjemput si tegas, karena dia pun tak ada kendaraan yang bisa digunakan pada saat itu. Dan akhirnya aku berangkat tetapi tiba-tiba si wibawa mengirim pesan kepadaku yang intinya bahwa dia meminjam helm, dan aku pun membawa helm lebih, setelah itu kami berjanji untuk bertemu di seseupan, aku pun menunggu, selama menunggu aku asyik dengan sebuah novel, novel yang sangat hebat dan luar biasa, oh yah ketika itu si wibawa pun berpesan lagi bahwa helmnya sudah ada, apabila ingin langsung menjemput si tegas silahkan, tidak tetapi aku tetap menunggu karena perjanjian awal yaitu pergi bersama, dan aku pun tengah asyik membaca novel. Ketika masih asyik dengan novelku si wibawa pun tiba sambil meminta maaf karena lama dan sebagainya, tetapi aku tidak apa-apa tidak merasa di repotkan. Dan kami pun lanjut menuju rumah si tegas, sampai di gang nya aku dan si wibawa mengobrol memecah sunyi di pagi hari, ketika itu langsung saja akau telepon si tegas karena aku merasa janggal lama sekali si tegas tidak muncul, dan mau tau? dia di sebrang gang nya ternyata. Haduh betapa idiotnya kami saat itu dan kami tertawa seperti anak kecil. Lanjut kami menuju rumah sibocah, setibanya disana si bocah belum siap, dan aku pun dengan tingkah idiot ku berbicara soal buah berambut, ya rambutan, mengapa? karena di rumah si bocah terdapat beraneka ragam tumbuhan, yang aku ingat hanya rambutan, dan ketika itu aku melihat rambutan yang ama dekat dengan tingkah kekanak-kanakan ku aku mencoba untuk mengambilnya dan dapat lalu aku makan saja, dan begitu manis si daging buah nya. Tidak lama dari tindakan bodoh ku itu ternyata si bocah sudah siap, langsung saja kami meluncur menuju kolam renang.
Setibanya disana kami langsung memarkirkan motor, dan mau tau? aku, si wibawa, dan si tegas belum sarapan, dan kami pun memarkirkan motor saja si sagara lalu kami mencari sarapan, dan dapat, bubur ayam, kami pun langsung menyantap sarapan itu dengan canda tawa, begitu panjang waktu apabila bersama orang terkasih. Lanjut kami masuk ke sagara dan membeli tiket terlebih dahulu, ketika aku dan si wibawa membeli tiket, si tegas sedang ke Anjungan Tunai Mandiri, aku kira si bocah bersamanya, ternyata tidak, setelah menunggu si tegas baru kami masuk bersama, waw, luar bisa, keren, hanya atlet renang yang kami dapati, sedang kami hanya perenang ulung. Setiba disana kami mencari tempat duduk, awanya di pojok tetapi aku merasa risih, ada yang sedang di perbaiki di sana jadi aku memberi saran untuk pindah, dan kami pun pindah, disana kami berbincang-bincang ringan sambil bercanda, aku pun merasa ingin lanjut berenang, aku merasa telah lama tidak berenang selepas ke pulau itu. Aku masuk ke kolam tersebut dan airnya jernih, kedalaman yang cukup dan aku mulai kesana kemari, jauh, lelah, dan hal aneh nya nafasku, terasa sedikit aneh, biasanya bila berenang nafasku teratur, tetapi akhir-akhir ini sulit sekali bernafas ketika berenang.
Beberapa menit kemudian si wibawa, si tegas, dan si bocah menyusul ku masuk ke dalam kolam renang, ya kami seperti biasa, melakukan hal bocah, kekanakanakan lainnya, sit up di tempat loncat para atlet renang lah, belajar gaya anjing lah agar tidak tenggelam, ya itu lah kami, setelah itu kami semua belajar berenang pelan pelan, sampai aku merasa bosan ya kebiasaan hina ku muncul lagi, aku mulai rol depan di air seperti yang mereka inginkan, mengapa mereka tau aku bisa rol depan di air? ketika snorkeling di laut aku pun melakukan hal itu. Beberapa lama kami renang, kami pun menemukan ide gila lainnya foto di bawah air, kebetulan si wibawa membawa water proofnya, dan mulailah kegilaan kami berfot-foto ria, sampai tiba pukul 11:30 lalu kami menyudahi acara berenang tersebut, mungkin itu kejadian aneh dan begitu mengesankan ketika bersama mereka.

Hanya saja.

Akhir-akhir ini kami jarang berkomunikasi, jarang bertukar pikiran seperti hari-hari sebelumnya mungkin karena kesibukan satu sama lain, atau mungkin juga ingin mencari pengalaman, kesibukan bahkan pendapat dari orang lain, entahlah walau seperti itu adanya aku tetap menyayangi mereka, aku tetap berusaha menjadi sesosok sahabat bagi mereka.

Cinta, Sahabat dan Tujuan hidup tidak bisa di jelaskan tetapi hanya bisa di rasakan dan di maknai

 

Akhir untuk awal yang indah part 2

24 Desember 2015

Ketika pagi itu, dimana Eko, Indra, Annas telah kembali ke kosan ku, akupun terbangun dari tidur singkat ku, ya hanya 60 menit aku mengalami mati sekejap itu, dan aku pun terbangun, begitupun Rahmat lalu kamipun teringat kami belum shalat Isya, lalu kami semua langsung segera ke Masjid yang terletak tidak jauh dengan kosan ku, kami shalat Isya pada pukul 4 dimana adzan Shubuh akan berkumandang, tetapi setelah shalat Isya kami pun kembali lagi menuju kosan ku dan kami siap-siap untuk keberangkatan hari ini. Alpiansyah dan aku hanya mencuci muka saja, begitupun dengan Eko dan Annas tetapi ada 1 hal yang ganjal, Indra, dia malah berkeramas, entah apa alasannya aku tidak tahu jelas. Setelah itu kami siap-siap membawa semua yang akan diperlukan di Pulau nanti, ketika telah beres semua kami langsung menuju Mesjid tempat kami shalat Isya sebelumnya, lalu berjamaah lah mereka. Mereka? aku dimana? aku telah shalat terlebih dahulu karena aku sedang menunggu konfirmasi dari driver salah satu taxi online. Dan kami pun akhirnya di jemput oleh driver tersebut di dekat kosan ku. Lalu kami pun minta di antar menuju Stasiun Jakarta Kota, stasiun? bukannya akan ke pelabuhan? menyebrangi pulau? Ya awal nya kami akan berkumpul di stasiun itu, tetapi para wanita memutuskan langsung menuju pelabuhan, di stasiun telah bertengger 2 makhluk tuhan hebat lainnya, Yana Apriana dan Widi Kurniawan mereka dari jam 4 telah berada di stasiun hebat bukan? Ternyata disana kami hanya menunggu para “Aliansi” siapa kah mereka? Mereka juga orang tangguh lainnya, mereka adalah Rifki, Agung, Sandi mereka memiliki 1 mantan yang sama jadi disitulah mereka mendapat julukan Aliansi dari ku. Setelah mereka tiba kami pun langsung memesan kendaraan yang sama seperti sebelumnya, dan aku pun tetap 1 mobil bersama orang-orang yang menginap di kosanku hanya saja Eko sendiri yang berbeda mobil, kenapa? karena tiada lagi yang tahu tempat selain Eko. Setibanya di pelabuhan kami bingung, dimana wanita-wanita yang telah meninggalkan kami? dimana mereka? dan akhirnya aku menelpon salah seorang dari mereka dan ketemu!!! Itu mereka dan semua itu seperti bahagia sekali, pertemuan yang di idam idamkan pun telah terjadi telah berkumpul.
Dari situ kami langsung memasuki kapal, yeahhhh!!! Liburan indah bersama para manusia tangguh pun akan segera dimulai. Kami menaiki kapal, kami mencari tempat untuk duduk, awalnya kami kira di atas kapal itu dilarang dan kami pun menuju kabin bawah, dan menempati tempat duduk, tempat duduk yang ku pilih berada di dekat jendela karena aku ingin menikmati laut ya laut, hasil karya Allah yang terindah lainnya selain Langit. Sebelum berangkat kami sempat ber foto-foto ria, kami sempat mengabadikan momen kebahagian itu.

IMG_20151224_065716_1      IMG_20151224_065432

Beberapa menit kemudian kapalpun siap untuk berangkat. Di dalam kapal kami bersenda gurau, melepas kerinduan, memecah kebisingan mesin kapal, membuat sekitar kami heran, begitu banyak, heboh, kocak, bocah ya begitu lah kami, mungkin sedikit tidak tahu malu, tetapi dari situ ada seseorang yang kagum dengan kami, dengan kekeluargaan kami dengan kebersamaan kami. Di sana ada beberapa orang yang membawa begitu banyak makanan seperti Widi, Annas bahkan Rahmat yang menjual Pangsit Kabab nya pun memberikannya dengan cuma-cuma dan membagikannya, betapa tidak bangga kami memiliki seseorang demisioner ketu osis seperti dirinya, demisioner itu apa? dari awal kalian membaca kata itu bukan? Ya intinya kami seperti alumni atau purna dari OSIS SMK Wikrama Bogor Angkatan ke 5 maka dari itu kami pun memeiliki julukan Demis V. Setengah perjalanan lau terasa berombak besar tetapi ombak itu begitu indah, buih yang di hasilkan langit yang cerah dan burung-burung yang beterbangan kesana kemari membuat lebih hidup perjalanan ini.  Di situ lah aku mendapatkan ide untuk membuat sebuah kado kepada seseorang, ya seseorang.

IMG-20151226-WA0104IMG20151224100408

 

 

 

 

 

 

Ya itulah kado yang pertama kali aku berikan dengan kesederhanaan.
90 menit telah berlalu, kapal pun mulai merapatkan diri ke dermaga dan setibanya kami di Pulau Pari kami di jemput oleh Tour Guide dari Travel kami awal kami kenal merasa asyik dengan mas ini, friendly dan sopan, dan kami pun di antar menuju Homestay oh iya ketika kami vote dan bertemu itu untuk apa? apa tujuannya? Kami merundingkan tentang penginapan nanti ber Ac atau tidak dan sebgainya, sesampainya di homestay ternyata kami mendapat kan yang ber AC padahal sejak awal kami sepakat untuk non AC mungin sudah takdir nya agar kami tidak ber panas-panas ria, dan lebih hebatnya homestay wanita dan pria di pisah, padahal kami kira bakal di satukan, karena dulu ketika kami sering membuat acara di sekolah kami sering tidur dalam 1 ruangan yang sama, mungkin hal itu tidak bisa dilakukan seperti dulu. Dan sesampainya di homestay masing-masing kami mulai berkemas.

To be Continued.

Akhir untuk awal yang indah part 1

Apakah kalian pernah merasakan kejenuhan? jenuh dalam hal apapun. Pasti jawabannya ya, ya begitulah yang diri ini rasakan ketika bulan Desember 2015 lalu, bulan bulan penuh harap bagi ku, bulan bulan ingin melepas kejenuhan, kerinduan bahkan mungkin penyemangat kembali. Ada apa dengan bulan itu? apa yang terjadi? di bulan itu diri ini bersama dengan sebagian dari malaikat-malaikat penolong, keluarga ke 2 ku, ya tepat sekali Demisoner V bersama mereka, orang-orang terhebat yang ku punya, kami melakukan “tadabur alam” kami travel untuk pertama kalinya dengan jumlah yang tidak sedikit.

2 bulan lalu sebelum keberangkatan.

A : “Eh guys gimana kalo kita liburan yu pas natal? libur semua kan?”
I : “Wah ide bagus, gimana kalo kita ke pulau pari?”

Dari percakapan di group facebook sederhana itu lah kami mulai membahas soal itu setiap hari walau kadang menyimpang kemana-mana nah disitulah seru dan bahagianya diri ini, ketika kami harus serius tapi di selingi candaan ringan, candaan yang sekana menambah semangat untuk bertemu dan mengisi energi masing-masing. Dari situ setiap bagian dari kami mencari usul paket travel yang tepat, paket travel murah tetapi lengkap, pasti setiap orang menginginkan itu, dan akhir dari semua itu, salah satu dari kami mendapatkan paket tersebut, murah dan lengkap. Maisah ya seorang wanita tegas dan berkepribadian “galak” ini yang mendapatkan info paket tersebut, dia yang mengurusi soal paket travel dan selalu menghubungi guide tersebut, dan dari situ kami mulai mengadakan vote, pertemuan, dan untuk menyebarkan info tentang liburan ini. Dan sampailah dimana terkumpul orang-orang yang ikut sekitar 19 orang jika tidak salah, sebenarnya banyak yang ingin ikut tetapi, waktu dan keadaan mungkin yang belum mengizinkan yang lain ikut.

23 Desember 2015.

Hari itu aku izin tidak masuk kerja, mengapa? Aku ingin mempersiapkan diri untuk semuanya dan hari itu akupun berjanji untuk mengantarkan seseorang wanita hebat lainnya, seorang wanita tangguh, kreatif, inovatif, bahkan jadi rebutan setiap pria ya, Ika Fitria Nur Ayu Ningrum aku telah berjanji untuk mengantarkannya menuju kosan Maisah, kenapa? untuk apa? Karena kami semua harus berada di pelabuhan pada pukul 06:00 pagi maka dari itu semua harus berangkat dari Jakarta setiap dari kami. Aku pun menjemput dia di stasiun Bogor pada pukul 17:00 telah sampai, dan benakku pun bertanya “Janji setelah maghrib tetapi, saat ini telah tiba, apa yang harus aku lakukan? kemana harus melangkah?” hingga akhirnya tangan Allah pun bekerja, hati ku di gerakkan untuk mengunjungi sebuah kenangan, ya kenangan yang akan selalu kusimpan “Mesjid Balaikota Bogor” di sanalah aku melangkahkan kaki, tempat aku melewatkan Shalat ketika PKL (Praktek Kerja Lapangan) tempat dimana saling bertukar fikiran bersama salah seorang sahabat yang begitu berpengaruh di hidup ini. Disana aku mengingat semuanya, tersadar apa tujuan ku setahun silam. Dan tiba saat nya aku pun telah bertemu dengan Ika, yang di antar oleh Ayah nya, dan disitu aku menjelaskan semuanya kepada ayahnya tentang perjalanan malam ini.

Perjalanan malam.

Ketika menunggu kereta, kami saling cemas, “apakah ada kereta malam ini? selarut ini?” ya malam itu sekitar pukul 19:30 kami menunggu dengan cemas, sampai akhirnya pun datang sesuatu yang telah ditunggu, dan ketika di dalam kereta, kami melakukan sedikit “permainan” mengasah otak, menguji kemampuan.
*beberapa saat kemudian*
Ika : “Aser liat deh anak kecilnya lucu”
Aku : “Iya yah lucu kaya ika hahaha” sedikit humor untuk menghilangkan kebisingan suara kereta
Ika : ” Foto ser fotoin”
Aku : “Siap”
Mungkin itu sedikit ke jahilan kami, memotret sesosok anak kecil yang begitu imut dan lucu, setelah beberapa saat itu, Ika pun risih dan dia bercerita bahwa ada seseorang yang memperhatikan ku, dan akupun memberitahu agar tenang dan semuanya biasa saja.
Ketika telah tiba di stasiun Duri kami pun melanjutkan transit untuk menaiki kereta tujuan Tangerang, kemana tujuan akhir sebenarnya? Stasiun pesing dimana stasiun terdekat dengan kosan Maisah. Dan stelah sampai pesing, aku pun mengambil motor yang telah ku titipkan, lalu melaju menuju daerah kosan Maisah. Setelah itu aku pun langsung melaju menuju stasiun cawang, untuk apa ? *lagi
Oh ya sebelumnya sudah ada beberapa orang lain yang ikut menginap di kosan ku, yaitu Eko Afrian, Indra Aries Sandi dan Andre Annas, mereka telah tahu kosan ku karena pernah berkunjung, dan juga karena sebelumnya kami sudah melakukan survey dan itupun bersama yang menginap di kosan ku, dan sebelum aku menjemput Ika pun aku telah memberikan kunci kosan kepada Eko Afrian.
Disaat yang lain sedang menunggu di kosan ku. Aku pun menjemput 2 orang hebat lagi, 2 orang terhebat lagi yang aku miliki.
Mereka adalah Rahmat Sahrudin, dan Alpiansyah, ya aku pun dengan kecepatan maksimal menarik pedal gas, tetapi tetap saja membuat mereka menunggu. Sesampainya di stasiun Cawang aku pun mengantar Rahmat terlebih dahulu, karena dia membawa sebungkus “usaha” ya Pangsit Kabab nya. Setelah sampai di kosan aku pun sesegera mungkin menjemput Alpiansyah dan diperjalanan aku ingat bahwa belum mengisi perut sejak tadi siang dan aku pun mengajak nya untuk makan nasi goreng dan akhirnya kami pun makan setelah itu sampai di kosan aku pun telah berhasil menjemput mereka semua dengan selamat, walau malam telah larut. Setelah semua berkumpul tidak ada yang bisa tidur selain Rahmat, semua bersenda gurau, memecah hening malam, karena jarang sekali kami bisa berkumpul seperti ini hingga akhirnya Alpiansyah pun tertidur, sementara Rahmat dan Alpin terlelap Eko, Indra, dan Annas memutuskan untuk mencari udara segar pada pukul 2:00 pagi, mereka tidak menghiraukan jam maupun keadaan karena waktu bersama dan lengkap ketika SMK itu sangat jarang sekali. Selagi mereka pergi kemana aku? apa yang ku lakukan? Aku berpikir tidak ingin tidur, tidak ingin meninggalkan sedetik pun bersama mereka tetapi karena kosan pun hening maka aku pun terlelap dengan sendirinya.

To be Continued.

Cinta

Cinta sebuah kata yang begitu rumit untuk di paparkan, sebuah kata yang memiliki beribu makna bahkan jutaan, mengapa begitu? Cinta sendiri dapat di artikan bagaimana pemikiran dan sudut pandang masing-masing juga, ketika cinta itu indah, itu bagi orang yang mendapatkan cinta sejatinya, dan ketika cinta itu sedih, buruk, “galau” mungkin cinta seperti itu menurut orang yang gagal dalam percintaan.

Menurut aku sendiri cinta adalah perasaan dimana ada rasa ingin memiliki, melindungi, dan memperbaiki orang yang di cintai. Cinta itu tidak selalu harus kepada lawan jenis, cinta itu tidak harus selalu mengenai “pacar”. Keluarga,sahabat mereka pun berhak atas cinta itu sendiri, mungkin cinta nya memang berbeda, tidak seperti kepada lawan jenis, tidak begitu berlebihan dan bernafsu.

Berlebihan? Bernafsu? Jelas, ketika seorang insan manusia mencintai lawan jenisnya, pasti mereka ingin saling memiliki, dan sampailah adanya “pacaran”, sebelum pacaran pasti mereka saling mengenal terlebih dahulu atau pedekate, nah disaat pedekate itu mereka saling menceritakan kehidupan satu sama lain, setelah itu “jadian”. Nah ketika semua proses itu telah di lewati pasti ada perkataan atau perlakuan dari mereka yang menunjukkan sikap tidak senonoh, bermesraan dan semacam nya. Apakah itu hakikat cinta sendiri? apakah itu cinta sejati? Tidak! Menurut ku “Cinta itu suci maka kita harus menjaga kesuciannya” nah dari opini tersebut bisa diartikan cinta yang sesungguh nya itu adalah bagaimana satu sama lain bisa saling memperbaiki, bukan saling menjerumuskan ke lembah dosa.

1. Al-Isra`: 32

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.”

2. An-Nur ayat 30:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

3. An-Nur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

4. “Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu‘Abbas.R.A)

5. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Kutipan diatas adalah beberapa dari Firman Allah dan Hadist tentang larangan pacaran sendiri. Nah apabila agama pun telah menjelaskannya apakah kita tidak menghiraukan itu? apakah agama hanya sebagai tontonan, sedangkan budaya barat sebagai tuntunan? Jawab dalam diri kalian masing-masing! Pacaran bukan lah hal yang wajar tetapi masyarakat sendiri yang membuat itu wajar.

Bayangkan, ada seorang laki-laki dia begitu mencintai seorang wanita yang shalehah, yang baik, yang anggun dan lelaki tersebut ingin melindungi dan menjaganya, dimulailah pendekatan mereka, dari hal kecil, bertemu setiap hari, bercanda gurau, dan ketika masa-masa tersebut telah dilewati selama 3 bulan akhirnya mereka pun saling memberitau perasaan masing-masing ternyata mereka saling jatuh cinta, tetapi sang wanita enggan bila harus pacaran, dan lelakinya pun menyetujui untuk tidak pacaran tetapi hanya dekat, dan hal aneh nya ketika mereka tidak “pacaran” perlakuan mereka layaknya seorang pacaran, setiap hari memberi kabar, setiap waktu memikirkannya, sampai pada akhirnya ada masa dimana sang lelaki tersadar bahwa mencintai lawan jenis tidak seperti ini, bukan mengumbar kata-kata mesra setiap hari, saling memberi kabar setiap hari, tapi saling memperbaiki tetapi ketika mereka menjalaninya, sang lelaki merasa tidak ada yang berubah semua hal sama seperti pertama bertemu, sampai pada akhirnya sang lelaki pun memutuskan untuk memberi tahu si wanita untuk memperbaiki diri masing-masing, walau pahit tetapi sang lelaki sadar cinta itu suci maka harus dijaga kesuciannya. Nah dari situlah dia mencoba meng ikhlaskan sang wanita, memperbaiki diri, menambah ilmu untuk masa depan, ketika semua itu telah biasa dan telah berjalan kembali seperti semula seperti sang lelaki itu tidak mengenal wanita tersebut, tiba-tiba setelah 1 tahun lebih sang wanita kembali menghubungi lelaki tersebut, dan lelaki itu pun terkejut, teringat kembali hal-hal indah bersama sang wanita, kembali lagi sang lelaki terjerat masalalu, di saat seperti ini lah peran sahabat begitu dibutuhkan, sang lelaki tersebut bercerita kepada sahabatnya dan akhir nya sahabatnya pun memberi pendapat untuk melupakannya dalam beberapa saat bukan berarti memutuskan tali silaturahmi tapi hanya melupakan agar rasa itu tidak kembali. Dan akhirnya sang lelaki tersebut bisa melewati semuanya, bisa melupakan kenangan tersebut, tidak bukan melupakan tetapi berdamai dengan kenangan indah tersebut dan dia sadar, apabila sudah waktunya, dia akan mendapatkan jodohnya bukan dengan jalan hina tetapi dengan jalan Allah.

Karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.

Dari cerita diatas dapat disimpulkan, begitu banyak godaan dalam perasaan cinta sendiri, ketika sang lelaki sudah sadar tetap godaan itu kembali dan datang tetapi semua itu bisa di tangani oleh sang lelaki hanya karena ia memiliki sahabat, ada pepatah mengatakan “Apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kitapun akan terkena wanginya” Dari pepatah itu bisa disimpulkan, apabila kita berteman atau bersahabat dengan orang baik maka kita pun akan tertular kebaikannya.

Cintailah sesuatu berlandaskan Allah niscaya hati akan damai, dan ketika sesuatu itu mengecewakan kita tetap dapat bersyukur.

Begitulah cinta 1 kata penuh makna.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑