Alunan musik, sapaan lembut angin yang berasal dari kipas angin, mengusik malam ini, memaksa tangan dan pikiran menuangkan sesuatu yang kini ku rasa, yang aku tak tahu akan bagaimana di masa depan nanti.

Akhir-akhir ini kegelisahan menghampiri relung jiwa dengan kehidupan yang akan dilalui kedepan, kehidupan yang harus ditentukan sendiri, kemana, apa dan bagaimana langkah yang akan diambil untuk membawa mimpi pada raga ini. Hidup adalah pilihan, ribuan kali mungkin telinga ini telah menangkap kalimat tersebut, dan kini makna dari kalimat itu pun harus ku alami untuk ke sekian kalinya.

Tetapi, kali ini akan terasa berat.

Jum’at dua minggu yang lalu, aku melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan lokal di Indonesia, aku melakukan itu karena ada lowongan yang di beritahukan oleh salah seorang malaikat penolong ku, dan aku pun merasa jenuh dengan pekerjaan ku ini, dengan semua beban yang harus ku tanggung sendiri, karena apabila bisa bergabung dengan perusahaan tersebut, aku bisa bersama beberapa malaikat penolongku dan tumbuh bersama. Hingga akhirnya Rabu, 2 Maret 2016 aku pun melakukan tes dan interview, mungkin terdapat beberapa kesalahan teknis yang ku alami, aku melamar tidak sendiri, melainkan bersama salah seorang malaikat ku itu.

Aku sadar bahwa aku telah bekerja di salah satu market place di Ibukota ini, tetapi aku menginginkan pengalaman lebih, dan setidaknya aku ingin menjadi seorang programmer sesungguhnya, walau begitu banyak pertimbangan yang harus ku pikirkan.

Sabtu 05 Maret 2016, merupakan hari perdana dimana aku memasuki sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, awalnya aku ragu akan bisa berbaur dan masalah lainnya, tetapi semua itu telah di tepis dengan kenyataan yang begitu mengagumkan, aku bertemu dengan seorang bernama Tatan, mungkin dia orang pertama menyapa ku dan berbincang-bincang, dari kejadian itu, rasa percaya diriku terbentuk hingga ketika pemilihan Ketua kelas pun aku mengikuti dengan sangat baik, awal yang bagus pikirku. Dan aku banyak bertemu teman lain, hingga tercipta lah sebuah group chat sosial media dan di dalam group itu kami perlahan mengenal satu sama lain.

Minggu 06 Maret 2016, hari itu mungkin aku begitu bersemangat ketika berangkat pun aku lebih cepat 30 menit, dan aku bertemu dengan Irvan Julyansah, kami dapat bersama karena sebuah kelas yang membedakan kami dengan teman yang lain, disitu kami saling mengenal bahkan dia pun meminjamkan sedikit uang untuk membeli sebuah buku, perkenalan yang begitu ramah.

Aku mengira bahwa perguruan tinggi lebih kejam dari masa SMA ternyata semua itu salah, bahkan aku bisa memiliki banyak teman dengan sekejap, dengan begitu mudah, awal untuk akhir yang indah menurut ku.

Dan mungkin aku takut dengan perpisahan yang akan kuhadapi beberapa bulan nanti, tetapi kini aku sadar bahwa perpisahan adalah akhir untuk awal yang indah nantinya.

Bukan bagaimana cara kita supaya tidak berpisah denganya, melainkan bagaimana caranya supaya ketika perpisahan datang bukan kenangan pahit yang harus di pendam namun kebahagiaan.

 

Iklan