Cari

Coretan Kehidupan

Berdamai dengan keadaan dan memeluk erat kebencian.

bulan

Maret 2016

Aku dan Kisah hidupku

Malam ini semua terasa panjang bahkan sangat begitu amat panjang untuk ku jelaskan.

Aku dan kisah hidupku.

Laki-laki yang memperjuangkan hidupnya untukk ibu aku dan adik-adikku berasal dari daerah Sumatera Barat, beliau rela mengabdikan separuh hidupnya, jiwa raganya, hanya untuk keluarga nya, kucuran keringat dari tubuhnya begitu terasa kini, betapa tidak, hari ke hari beliau memikirkan untuk kehidupan kami, untuk pendidikan aku dan adik adikku, banting tulang, kesana kemari, hanya demi sesuap nasi dan secercah sinar yaitu pendidikan untuk kami anak-anak nya, aku sadar beliau begitu menyayngi kami, aku sadar beliau bangga terhadap ku, karena kini aku sedang melakoni impian terbesarnya, dan begitu mulia, ya, belliau menginginkan pendidikan terbaik untuk ku. Walau dulu aku betapa membencinya, tak pernah satu hari pun bertukar pikiran dengannya, tak pernah beliau merasa bangga, tapi itu dulu hanya anggapan seorang bocah, tetapi kini aku sadar, betapa sulit mengungkapkan semua isi hati apabila telah menemukan arti dewasa, betapa sulit mengungkapkannya.

Sosok wanita ini di lahirkan di Sumatera Utara sama dengan tempat lahirku, namun beliau berasal dari Jawa Tengah, dari rahimnya aku lahir, berkat didikan dan kasih sayangnya aku bisa sampai sejauh ini dari nya, dia rela menanggung malu untuk anak-anaknya, dia rela mengorbankan hidup dan mati nya demi aku dan adik-adikku, dia sangat ikhlas menyuci baju kami sekeluarga setiap hari, memasak masakan terlezat yang aku dan keluarga ku santap, memanage keuangan keluarga, memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya, walau semua itu tak kami hiraukan, tak kami apresiasikan dengan apapun, tetapi beliau tetap ikhlas menjalani semua, semua yang beliau lakukan. Ibu, ibu, ibu mungkin beliau wanita terbaik, ter ikhlas, tangguh yang aku miliki saat ini, wanita yang menularkan betapa banyak virus kebaikan yang ku miliki saat ini.

Aku di besarkan oleh kedua orang hebat tersebut, aku belajar apa arti keluarga, pendidikan, etika, moral, agama dari mereka, aku sendiri pun di lahirkan di tempat yang sama dengan Ibu ku, Sumatera Utara, tanah kelahiranku, walau hanya 1 bulan setelah lahir aku berada disana, tetapi jiwa ini tetap menganggap itu adalah tanah kelahiran ku, aku dibesarkan di bogor dan memiliki 2 orang adik, mungkin hubungan aku dan adik ku tak seindah hubungan persahabatan ku, namun aku tau mereka tetap adikku.

Suatu ketika aku menginginkan rasanya memiliki seorang kakak, ingin tahu bagaimana menjadi adik, dan di lindungi oleh sang kaka, mungkin itu telah terwujud, dan kini aku memiliki 2 orang yang telah aku anggap sebagai kakakku, Arif dan Tatan, mereka telah banyak menorehkan makna kaka di kehidupan ku ini.

Tetapi kini yang bisa ku lakukan hanyalah menjaga dan mendoakan kalian agar tetap bisa bersamaku, andai saja bisa aku ingin, aku saja yang terlebih dahulu meninggalkan kalian.

Karena aku tak sanggup di landa kesedihan karena pahitnya perpisahan

Iklan

Bersyukur

Tuhan, hari ini aku bersujud menghadap mu, aku merintih dalam hening doaku, ketika aku sedang menyembahmu, semua tentang diri ini terkenang, terulang dalam pikiran ini begitu saja, aku tak tau apa yang sedang terjadi saat itu, yang aku tahu aku hanya berdoa dan memohon kepadamu untuk menjaga semua orang yang telah memperlakukan ku begitu amat baik, sangat menghargaiku, dan mau menerima diri ini. Selain itu akupun begitu bersyukur telah di lahirkan dalam keadaan normal, bersama lingkungan yang begitu banyak mengajariku dasar dari kehidupan yang kini kujalani, Bersyukur pula telah kau pertemukan aku dengan berbagai macam orang baik dan bisa menerima keadaanku saat ini, tanpa memandang kondisi fisik yang dulu pernah ku benci. Aku bisa bertemu dengan Dzukfikar, Heni, Ina, Maya, Utari, Arif, Dika, Achla, Aul, Venny, Satria, Alpiansyah, Eko, Indra, Annas, Ika, Seluruh Demisioner V, mereka semua, karena mereka aku bisa bertahan hingga saat ini, entah apa jadinya bila aku tidak bertemu dan mengenal mereka. Rencamu untukku begitu indah Tuhan, kehidupan yang kau berikan begitu penuh perjuangan, dan dari situ aku bisa belajar menghargai perasaan orang lain, dari semua yang KAU berikan ini aku tau waktu sangat amat begitu berharga.
Dan kinipun KAU berikan lagi keindahan hidup itu kepadaku, kau mempertemukan ku dengan teman satu kampus yang bisa menerimaku apa adanya, Tatan, Juli, Fikri Amrullah, Cahyo, Cahyadi, Harisun, Aryo, Bayu, Rizki, Risca, Sarip, Ria, Meyta, Iwan, mereka hanya sebagian orang yang menghargai keberadaanku, mereka yang tidak pernah menghina aku sedikit pun dan apapun itu, aku begitu bersyukur Tuhan.

Dan ku mohon, jagalah mereka semua, berikan kebaikan kepada mereka, aku tau semua yang kau tunjukkan ini adalah semata-mata perjalanan dan pelajaran hidup yang harus ku lalui.

Hidup terasa berarti bersama orang yang mampu menerima mu

– Ashari Fauzi

Jaga pula Ibu dan Ayahku, adik-adikku, dan keluarga ku yang lain Tuhan.

Terimakasih atas semua perjalanan dan pelajaran ini.

Aku

Dedaunan saat ini sedang teduh tekena hempasan angin yang menggoda, udara sejuk pun tercipta. Sesuai, sangat sesuai momen seperti ini pas untuk ku, entah harus mulai dari mana, dan bagaimana, tetapi terkadang makna hidup selalu terlintas dalam khayalan, dan bayangan ku ini.

Pertemuan, Kebahagiaan, Pilihan lalu Pepisahan apakah hanya itu yang terjadi dalam hidup ini? Ketika bertemu semua terasa aneh, berbeda, tetapi lambat laun semua akan biasa dan beradaptasi dan timbul lah kebahagiaan, lalu setelah bahagia dan nyaman, pilihan dalam hidup pun bermunculan, resiko dan keuntungan semua harus di pikirkan, dan setelah mengambil keputusan pasti ada resiko yang di dapatkan tetapi itu pun untuk mendapat hal lain yang lebih, resiko pun salah satunya adalah berpisah dengan mereka yang telah membuat hari-hari terasa indah dan bahagia, tetapi pasti ada hal yang ingin di capai ketika meninggalkan mereka. Apakah ini makna hidup sesungguhnya?

Entah, taktau. Kata itu yang bisa ku ungkapkan, karena makna dari suatu hal pasti berbeda dari sudut pandang setiap insan. Tetapi jelas sekali hanya itu yang kurasa.

Ketika memasuki masa SMK aku merasa berbeda, tak mampu berbaur, tetapi lambat laun berubah, sangat drastis, dan aku memiliki kehidupan SMK yang bahagia bersama sahabat dan kerbat dekat lain, lalu tibalah UN dimana semua harus berakhir, dan menentukan pilihan, lanjut sekolah atau bekerja, ketika bekerja pun begitu begitu banyak godaan, rintangan yang di lalui.

Aku tau, semua ini ada campur tangan sang Kholik, aku tau DIA telah memberikan pilihan yang terbaik, hanya tergantung insan sendiri yang menentukan, semua masih menjadi misteri besar hingga saat ini, semua yang membuat ku bahagia harus ku tinggalkan demi sesuatu yang lebih baik, itu lah hidupku.

Tetapi, setidaknya aku bisa melewatinya walau itu pahit.

Hidup penuh liku dan pilihan itu yang ku ketahui.

Awal untuk akhir

Alunan musik, sapaan lembut angin yang berasal dari kipas angin, mengusik malam ini, memaksa tangan dan pikiran menuangkan sesuatu yang kini ku rasa, yang aku tak tahu akan bagaimana di masa depan nanti.

Akhir-akhir ini kegelisahan menghampiri relung jiwa dengan kehidupan yang akan dilalui kedepan, kehidupan yang harus ditentukan sendiri, kemana, apa dan bagaimana langkah yang akan diambil untuk membawa mimpi pada raga ini. Hidup adalah pilihan, ribuan kali mungkin telinga ini telah menangkap kalimat tersebut, dan kini makna dari kalimat itu pun harus ku alami untuk ke sekian kalinya.

Tetapi, kali ini akan terasa berat.

Jum’at dua minggu yang lalu, aku melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan lokal di Indonesia, aku melakukan itu karena ada lowongan yang di beritahukan oleh salah seorang malaikat penolong ku, dan aku pun merasa jenuh dengan pekerjaan ku ini, dengan semua beban yang harus ku tanggung sendiri, karena apabila bisa bergabung dengan perusahaan tersebut, aku bisa bersama beberapa malaikat penolongku dan tumbuh bersama. Hingga akhirnya Rabu, 2 Maret 2016 aku pun melakukan tes dan interview, mungkin terdapat beberapa kesalahan teknis yang ku alami, aku melamar tidak sendiri, melainkan bersama salah seorang malaikat ku itu.

Aku sadar bahwa aku telah bekerja di salah satu market place di Ibukota ini, tetapi aku menginginkan pengalaman lebih, dan setidaknya aku ingin menjadi seorang programmer sesungguhnya, walau begitu banyak pertimbangan yang harus ku pikirkan.

Sabtu 05 Maret 2016, merupakan hari perdana dimana aku memasuki sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, awalnya aku ragu akan bisa berbaur dan masalah lainnya, tetapi semua itu telah di tepis dengan kenyataan yang begitu mengagumkan, aku bertemu dengan seorang bernama Tatan, mungkin dia orang pertama menyapa ku dan berbincang-bincang, dari kejadian itu, rasa percaya diriku terbentuk hingga ketika pemilihan Ketua kelas pun aku mengikuti dengan sangat baik, awal yang bagus pikirku. Dan aku banyak bertemu teman lain, hingga tercipta lah sebuah group chat sosial media dan di dalam group itu kami perlahan mengenal satu sama lain.

Minggu 06 Maret 2016, hari itu mungkin aku begitu bersemangat ketika berangkat pun aku lebih cepat 30 menit, dan aku bertemu dengan Irvan Julyansah, kami dapat bersama karena sebuah kelas yang membedakan kami dengan teman yang lain, disitu kami saling mengenal bahkan dia pun meminjamkan sedikit uang untuk membeli sebuah buku, perkenalan yang begitu ramah.

Aku mengira bahwa perguruan tinggi lebih kejam dari masa SMA ternyata semua itu salah, bahkan aku bisa memiliki banyak teman dengan sekejap, dengan begitu mudah, awal untuk akhir yang indah menurut ku.

Dan mungkin aku takut dengan perpisahan yang akan kuhadapi beberapa bulan nanti, tetapi kini aku sadar bahwa perpisahan adalah akhir untuk awal yang indah nantinya.

Bukan bagaimana cara kita supaya tidak berpisah denganya, melainkan bagaimana caranya supaya ketika perpisahan datang bukan kenangan pahit yang harus di pendam namun kebahagiaan.

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑