Pagi ini, dikala kokokan ayam, ketika burung berkicau dan gemericik suara embun, tebesik di benak ini, terpikirkan kembali di logika ini, dan tersentak perasaan ini, mengenai kisah ku, pengalaman ku selama 18 tahun mengarungi kehidupan, mengumpulkan amal yang akan ku bawa nanti.

Begitu cepat waktu yang telah terlewatkan, betapa tak terasa kisah ini semakin menua, semakin mencari tujuannya sendiri, mungkin aku tau apa yang ku lakukan saat ini, tetapi aku tak tau apa arti semua yang ku lakukan, entah ini jalan untuk merajut semua mimpi ku entah lah, yang ku tahu hanya lah menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi seseorang yang berguna, menjadi seseorang yang bisa membawa kebaikan bagi orang lain.

Ketika usia ku 5 tahun, aku hanya tahu, bermain, belajar, beribadah, mengaji, bersenang-senang hanya itu, lambat laun semua berubah. 10, 11, 12 tahun pun telah terlewati, dan ketika itu aku memulai masa remaja, masa dimana aku tau kehidupan luar, kehidupan baru, bersama banyak orang, ketika itu aku merasa mereka tak bisa menerimaku, aku merasa hidup ini egois, tetapi lambat laun aku pun bertemu beberapa sahabat disana, Pandu, Satrio, Heni, Ersyal, Inna, Maya, Ute.

Mereka mungkin beberapa sahabat yang pertama kali kupunya, sahabat yang mengajarkan banyak arti kebebasan, kebahagiaan masa-masa remaja.

Tetapi semua itu berubah ketika kami lulus.

Saat lulus lah kami semua berpisah, menentukan jalan masing-masing, dan pada akhirnya aku memilih sebuah sekolah, bukan itu adalah tempat untuk menempa diri, mental, dan pengalaman, sebuah SMK Hijau di Bogor, SMK Wikrama Bogor, disana yang aku tau hanyalah orang-orang baik yang mungkin bisa menerima ku, bisa saling berdampingan dalam masa pembelajaran. Dan harapan itu benar, walau awalnya aku merasa terasingkan, tetapi aku harus bisa bersinar, harus bisa menjadi suatu bagian kecil dari sekolah itu, dan akupun mengikuti sebuah Organisasi, OSIS, entah keajaiban apa yang membuatku bisa masuk Organisasi tersebut, tetapi aku bersyukur, rencana tuhan terlampau indah. Dan aku pun bertemu beberapa sahabat berharga lainnya yang menuntun dalam pelajaran kisah ini.

Arif, Achla, Aul, Pepen, Sultan Dika, Satria, mereka pun hal terindah lain yang aku miliki, dari mereka aku belajar lebih lagi dalam bergaul, dalam menjalani hidup.

Hingga suatu hari aku dan teman OSIS lain harus mengakhiri masa jabatan, Demisioner V itulah sebutan untuk kami selanjutnya. Dan selang beberapa bulan, aku pun telah Lulus dari sekolah kehidupan itu, bangga, bahaiga, sedih, semua rasa itu melekat ketika pengalungan medali oleh ketua yayasan, seakan memutar memori bahwa tempaan kehidupan telah berakhir dan harus memulai kisah awal di masyarakat.

Setelah beberapa bulan Lulus pun aku bekerja, dan tinggal di kota tersibuk dan tak pernah tidur.

Jakarta, di kota ini aku mengadu nasib sambil menuntut ilmu, dan semua kisah ini sedang dalam proses penempaan, proses menjadi lebih lebih dan lebih baik.

Tetapi terkadang ada satu hal yang selalu menghantui pikiran dan perasaan ini, Rindu.

Iklan