Malam tadi.

Kota ini terasa sejuk, terasa sepi, langit bersahabat memperlihatkan salah satu kuasa Tuhan, salah satu planet di luar angkasa sana, planet yang memancarkan sinarnya ketika malam hari,  ya bulan, bulan purnama malam yang begitu indah menghiasi langit kota ini, tetapi ada sesuatu aneh yang kurasa, sesak, dada, nafas, entah apa yang terjadi dada ini seakan sesak sekali untuk bernafas, sangat menyakitkan. Seketika sebuah pertanyaan berbisik di benakku, “apa kah ini? apa penyakit ini? akankah semua baik-baik saja?” lambat tapi pasti aku tidak bergeming membiarkan saja pertanyaan itu, dan mengatur nafasku. Aku membeli sebuah makan malam, lalu menyantapnya, setelah semua itu usai, aku pun langsung menuju tempat berteduh ku di kota ini, aku menuju sebuah kos-kosan. Sepanjang perjalanan, sebuah memori seakan terulang benar, seakan ingin aku kembali ke memori itu, apakah itu? apakah memori itu indah atau pahit? betapa indah nya memori itu,  memori ketika aku menjalani masa SMK ku dulu.

3 tahun silam.

Teringat betul dalam benakku, aku memasuki sebuah jurusan yang aku sendiri tak tahu akan seperti apa, aku memasuki sebuah kelas dan beberapa diantara mereka adalah teman SMP ku, tetapi aku belum pandai untuk berbaur di kala itu, dan aku pun sendiri. Hingga tiba saatnya aku memiliki seorang sahabat, dia begitu baik, sangat pandai memetik gitar, kreatif, dan memiliki hoby bermain volley, dan salah satu kenangan yang takkan pernah aku lupakan ketika dia memetik gitarnya dan aku bernyanyi, hal itu tidak bisa terbayar oleh apapun, aku ingat betul, semester 2 di kelas yang berbeda, karena setiap semesternya akan ada perombakan kelas. Ketika itu sang sahabat itu adalah ketua kelompok belajar MTK ku, dia lebih pintar dariku, dan aku pun belajar banyak, aku selalu bersamanya hingga saat ini, setiap tindakan ku yang salah pasti dia menasehatiku, begitu pun sebaliknya, begitu indah persahabatan itu, walau banyak sekali rintangan yang harus kami lewati, entah ego masing-masing, entah itu percintaan, dari semua itu kami bisa bertahan hingga saat ini, hingga kami menempuh hidup masing-masing. Dan hingga Praktek Kerja Lapangan pun kami bersama, di tambah 2 orang lagi dari jurusan yang berbeda, hari-hari PKL itu begitu menyenangkan, mengesankan, semua terasa hebat, janji-janji hidup seakan pasti melangkah menghampiri, setelah 3 bulan berlalu masa PKL kami pun menghadapi berbagai macam ujian di sekolah, sidang PKL, begitu banyak yang harus kami perjuangkan untuk Lulus, kami beripikir awalnya lulus, dan bekerja atau kuliah itu menyenangkan, bebas, tetapi tidak, semua itu salah besar, aku memutuskan bekerja karena aku anak sulung, dan harus lebih mandiri itu yang ada dalam benakku saat itu, dan sahabat ku dia kuliah dengan mengambil jurusan sastra inggris, jurusan yang sangat cocok baginya. Hari-hari terasa hampa tanpa kehadirannya, janji-janji hidup seakan fana, tetapi walau begitu kami tetap mencoba saling berkomunikasi, saling menjaga persahabatan ini.

Malam tadi.

Aku merasakan apabila ia sekarang bersama ku mungkin, janji-janji hidup itu seakan lebih nyata, seakan lebih menjanjikan, tetapi ini semua ujian untuk hidupku dan dia, semua ini cobaaan untuk persahabatan kami, dan aku yakin bahkan dia pun begitu yakin, suatu saat nanti, di masa yang akan datang, kami akan bertemu dalam satu keadaan lagi seperti di sekolah dulu.

Tidak akan ada yang hilang dari hati dan tidak akan pernah ada yang hilang dari kenangan.

Bagi ku kau sahabat terhebat ku yip, kau bisa membawa diri ini ke hal yang lebih baik. Terimakasih atas semua pelajaran, dan perjalanan singkat selama 3 tahun silam, terimakasih kau telah memperbaiki diri ini, terimakasih kau telah hadir di hidupku, dan maaf apabila diri ini selalu menyulitkanmu, kau tetap akan ada disini, di dalam hatiku. Oh yah dan satu lagi, apabila mimpi akan kebersamaan itu tidak bisa tercapai aku sangat meminta maaf, aku hanya takut apabila aku harus pergi meninggalkanmu untuk selamanya terlebih dahulu.

Iklan