Hembusan angin pagi di kota ini seakan berderu, berbisik dan mengingatkan kembali begitu kerasnya hidup, begitu munafik nya manusia, begitu fananya kehidupan, tetapi ketika kehidupan sesungguhnya ini kujalani, merasakan berat yang ku pikul “sendiri” menjadi terasa amat berat, ketika semua itu ku rasakan, aku bertemu dengan mereka.

Mereka? siapa? apa? bagaimana?

Ya, mereka adalah 3 anak manusia hebat dari beberapa yang ku punya, mereka hidup di dalam hati ini, aku bertemu dengan mereka ketika di SMK dan di Organisasi yang pernah ku ceritakan pada tulisan ku sebelumnya.

Seseorang dari mereka memiliki wibawa yang sangat aku kagumi, memiliki kelebihan yang sangat hebat, betapa tidak? Pintar, mudah memahami apapun, tentunya baik dan juga penuh dengan makna hidup ya dialah si wibawa.

Mereka lainnya adalah seseorang yang sangat tegas dengan kehidupannya, seseorang yang penuh prinsip hidup dan seseorang yang sangat mudah dalam bergaul  ya dialah si tegas.

Dan salah satu dari mereka yang terakhir yaitu orang yang hidupnya penuh dengan tontonan, orang yang masih memiliki sifat kekanakan lebih, walau di tahun ini dia ingin mulai beranjak dewasa, tetapi tetap aku memanggilnya si bocah.

Tidak ada hal aneh dari aku dan mereka hanya saja setiap kejadian yang aku dan mereka lalui terasa aneh, aku dan mereka berkumpul dalam sebuah group chat, dari situ kami bertukar pikiran, kami semakin dekat, hingga akhirnya aku pun merasakan betapa bangga dan tentunya bahagia bisa bertemu dengan mereka, ketika slah satu dari kami bingung, kami bisa menuangkan isi hati kami di group itu dan mendiskusikannya.

Hingga suatu hari kami pun pergi berenang bersama, awalnya aku dan mereka menentukan pada hari minggu tetapi tiba-tiba si bocah mengganti jadwal menjadi hari sabtu, dan jumat malamnya kami pun kelabakan menentukan tempat untuk bermain air itu, dan jatuhlah pilihan pada kolam renang sagara. Kami langsung salaing memberi pendapat tentang teknis keberangkatan dan pukul 8:00 kami harus menjemput si bocah, bagiku itu tak apa, karena memang kondisi rumah si bocah yang lumayan jauh. Esok hari nya aku sudah bersiap pada pukul 6:45 untuk berangkat, pagi sekali? ya aku dan si wibawa pun harus menjemput si tegas, karena dia pun tak ada kendaraan yang bisa digunakan pada saat itu. Dan akhirnya aku berangkat tetapi tiba-tiba si wibawa mengirim pesan kepadaku yang intinya bahwa dia meminjam helm, dan aku pun membawa helm lebih, setelah itu kami berjanji untuk bertemu di seseupan, aku pun menunggu, selama menunggu aku asyik dengan sebuah novel, novel yang sangat hebat dan luar biasa, oh yah ketika itu si wibawa pun berpesan lagi bahwa helmnya sudah ada, apabila ingin langsung menjemput si tegas silahkan, tidak tetapi aku tetap menunggu karena perjanjian awal yaitu pergi bersama, dan aku pun tengah asyik membaca novel. Ketika masih asyik dengan novelku si wibawa pun tiba sambil meminta maaf karena lama dan sebagainya, tetapi aku tidak apa-apa tidak merasa di repotkan. Dan kami pun lanjut menuju rumah si tegas, sampai di gang nya aku dan si wibawa mengobrol memecah sunyi di pagi hari, ketika itu langsung saja akau telepon si tegas karena aku merasa janggal lama sekali si tegas tidak muncul, dan mau tau? dia di sebrang gang nya ternyata. Haduh betapa idiotnya kami saat itu dan kami tertawa seperti anak kecil. Lanjut kami menuju rumah sibocah, setibanya disana si bocah belum siap, dan aku pun dengan tingkah idiot ku berbicara soal buah berambut, ya rambutan, mengapa? karena di rumah si bocah terdapat beraneka ragam tumbuhan, yang aku ingat hanya rambutan, dan ketika itu aku melihat rambutan yang ama dekat dengan tingkah kekanak-kanakan ku aku mencoba untuk mengambilnya dan dapat lalu aku makan saja, dan begitu manis si daging buah nya. Tidak lama dari tindakan bodoh ku itu ternyata si bocah sudah siap, langsung saja kami meluncur menuju kolam renang.
Setibanya disana kami langsung memarkirkan motor, dan mau tau? aku, si wibawa, dan si tegas belum sarapan, dan kami pun memarkirkan motor saja si sagara lalu kami mencari sarapan, dan dapat, bubur ayam, kami pun langsung menyantap sarapan itu dengan canda tawa, begitu panjang waktu apabila bersama orang terkasih. Lanjut kami masuk ke sagara dan membeli tiket terlebih dahulu, ketika aku dan si wibawa membeli tiket, si tegas sedang ke Anjungan Tunai Mandiri, aku kira si bocah bersamanya, ternyata tidak, setelah menunggu si tegas baru kami masuk bersama, waw, luar bisa, keren, hanya atlet renang yang kami dapati, sedang kami hanya perenang ulung. Setiba disana kami mencari tempat duduk, awanya di pojok tetapi aku merasa risih, ada yang sedang di perbaiki di sana jadi aku memberi saran untuk pindah, dan kami pun pindah, disana kami berbincang-bincang ringan sambil bercanda, aku pun merasa ingin lanjut berenang, aku merasa telah lama tidak berenang selepas ke pulau itu. Aku masuk ke kolam tersebut dan airnya jernih, kedalaman yang cukup dan aku mulai kesana kemari, jauh, lelah, dan hal aneh nya nafasku, terasa sedikit aneh, biasanya bila berenang nafasku teratur, tetapi akhir-akhir ini sulit sekali bernafas ketika berenang.
Beberapa menit kemudian si wibawa, si tegas, dan si bocah menyusul ku masuk ke dalam kolam renang, ya kami seperti biasa, melakukan hal bocah, kekanakanakan lainnya, sit up di tempat loncat para atlet renang lah, belajar gaya anjing lah agar tidak tenggelam, ya itu lah kami, setelah itu kami semua belajar berenang pelan pelan, sampai aku merasa bosan ya kebiasaan hina ku muncul lagi, aku mulai rol depan di air seperti yang mereka inginkan, mengapa mereka tau aku bisa rol depan di air? ketika snorkeling di laut aku pun melakukan hal itu. Beberapa lama kami renang, kami pun menemukan ide gila lainnya foto di bawah air, kebetulan si wibawa membawa water proofnya, dan mulailah kegilaan kami berfot-foto ria, sampai tiba pukul 11:30 lalu kami menyudahi acara berenang tersebut, mungkin itu kejadian aneh dan begitu mengesankan ketika bersama mereka.

Hanya saja.

Akhir-akhir ini kami jarang berkomunikasi, jarang bertukar pikiran seperti hari-hari sebelumnya mungkin karena kesibukan satu sama lain, atau mungkin juga ingin mencari pengalaman, kesibukan bahkan pendapat dari orang lain, entahlah walau seperti itu adanya aku tetap menyayangi mereka, aku tetap berusaha menjadi sesosok sahabat bagi mereka.

Cinta, Sahabat dan Tujuan hidup tidak bisa di jelaskan tetapi hanya bisa di rasakan dan di maknai

 

Iklan