Cinta sebuah kata yang begitu rumit untuk di paparkan, sebuah kata yang memiliki beribu makna bahkan jutaan, mengapa begitu? Cinta sendiri dapat di artikan bagaimana pemikiran dan sudut pandang masing-masing juga, ketika cinta itu indah, itu bagi orang yang mendapatkan cinta sejatinya, dan ketika cinta itu sedih, buruk, “galau” mungkin cinta seperti itu menurut orang yang gagal dalam percintaan.

Menurut aku sendiri cinta adalah perasaan dimana ada rasa ingin memiliki, melindungi, dan memperbaiki orang yang di cintai. Cinta itu tidak selalu harus kepada lawan jenis, cinta itu tidak harus selalu mengenai “pacar”. Keluarga,sahabat mereka pun berhak atas cinta itu sendiri, mungkin cinta nya memang berbeda, tidak seperti kepada lawan jenis, tidak begitu berlebihan dan bernafsu.

Berlebihan? Bernafsu? Jelas, ketika seorang insan manusia mencintai lawan jenisnya, pasti mereka ingin saling memiliki, dan sampailah adanya “pacaran”, sebelum pacaran pasti mereka saling mengenal terlebih dahulu atau pedekate, nah disaat pedekate itu mereka saling menceritakan kehidupan satu sama lain, setelah itu “jadian”. Nah ketika semua proses itu telah di lewati pasti ada perkataan atau perlakuan dari mereka yang menunjukkan sikap tidak senonoh, bermesraan dan semacam nya. Apakah itu hakikat cinta sendiri? apakah itu cinta sejati? Tidak! Menurut ku “Cinta itu suci maka kita harus menjaga kesuciannya” nah dari opini tersebut bisa diartikan cinta yang sesungguh nya itu adalah bagaimana satu sama lain bisa saling memperbaiki, bukan saling menjerumuskan ke lembah dosa.

1. Al-Isra`: 32

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.”

2. An-Nur ayat 30:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

3. An-Nur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

4. “Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu‘Abbas.R.A)

5. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Kutipan diatas adalah beberapa dari Firman Allah dan Hadist tentang larangan pacaran sendiri. Nah apabila agama pun telah menjelaskannya apakah kita tidak menghiraukan itu? apakah agama hanya sebagai tontonan, sedangkan budaya barat sebagai tuntunan? Jawab dalam diri kalian masing-masing! Pacaran bukan lah hal yang wajar tetapi masyarakat sendiri yang membuat itu wajar.

Bayangkan, ada seorang laki-laki dia begitu mencintai seorang wanita yang shalehah, yang baik, yang anggun dan lelaki tersebut ingin melindungi dan menjaganya, dimulailah pendekatan mereka, dari hal kecil, bertemu setiap hari, bercanda gurau, dan ketika masa-masa tersebut telah dilewati selama 3 bulan akhirnya mereka pun saling memberitau perasaan masing-masing ternyata mereka saling jatuh cinta, tetapi sang wanita enggan bila harus pacaran, dan lelakinya pun menyetujui untuk tidak pacaran tetapi hanya dekat, dan hal aneh nya ketika mereka tidak “pacaran” perlakuan mereka layaknya seorang pacaran, setiap hari memberi kabar, setiap waktu memikirkannya, sampai pada akhirnya ada masa dimana sang lelaki tersadar bahwa mencintai lawan jenis tidak seperti ini, bukan mengumbar kata-kata mesra setiap hari, saling memberi kabar setiap hari, tapi saling memperbaiki tetapi ketika mereka menjalaninya, sang lelaki merasa tidak ada yang berubah semua hal sama seperti pertama bertemu, sampai pada akhirnya sang lelaki pun memutuskan untuk memberi tahu si wanita untuk memperbaiki diri masing-masing, walau pahit tetapi sang lelaki sadar cinta itu suci maka harus dijaga kesuciannya. Nah dari situlah dia mencoba meng ikhlaskan sang wanita, memperbaiki diri, menambah ilmu untuk masa depan, ketika semua itu telah biasa dan telah berjalan kembali seperti semula seperti sang lelaki itu tidak mengenal wanita tersebut, tiba-tiba setelah 1 tahun lebih sang wanita kembali menghubungi lelaki tersebut, dan lelaki itu pun terkejut, teringat kembali hal-hal indah bersama sang wanita, kembali lagi sang lelaki terjerat masalalu, di saat seperti ini lah peran sahabat begitu dibutuhkan, sang lelaki tersebut bercerita kepada sahabatnya dan akhir nya sahabatnya pun memberi pendapat untuk melupakannya dalam beberapa saat bukan berarti memutuskan tali silaturahmi tapi hanya melupakan agar rasa itu tidak kembali. Dan akhirnya sang lelaki tersebut bisa melewati semuanya, bisa melupakan kenangan tersebut, tidak bukan melupakan tetapi berdamai dengan kenangan indah tersebut dan dia sadar, apabila sudah waktunya, dia akan mendapatkan jodohnya bukan dengan jalan hina tetapi dengan jalan Allah.

Karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.

Dari cerita diatas dapat disimpulkan, begitu banyak godaan dalam perasaan cinta sendiri, ketika sang lelaki sudah sadar tetap godaan itu kembali dan datang tetapi semua itu bisa di tangani oleh sang lelaki hanya karena ia memiliki sahabat, ada pepatah mengatakan “Apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kitapun akan terkena wanginya” Dari pepatah itu bisa disimpulkan, apabila kita berteman atau bersahabat dengan orang baik maka kita pun akan tertular kebaikannya.

Cintailah sesuatu berlandaskan Allah niscaya hati akan damai, dan ketika sesuatu itu mengecewakan kita tetap dapat bersyukur.

Begitulah cinta 1 kata penuh makna.

Iklan